BACAJUGA : Hadits Arbain Ke 1 - Setiap Amal Tergantung Niat. Hadits Arbain Ke 2 : Pengertian Islam, Iman dan Ihsan. Hadits Arbain Ke 3 - Rukun Islam dan Meninggalkan Shalat. Hadits Arbain Ke 4 - Proses Penciptaan Manusia dan Takdir dalam Lauhul Mahfudz. Hadits Arbain Ke 5 - Hadits Tentang Bid'ah. Hadits Arbain Ke 6 - Hadits Tentang
HaditsArbain Ke 28: Berpegang Teguh Kepada Sunnah; Hadits Arbain Ke 29 - Menjaga Lisan; Hadits Arbain Ke 30: Patuhilah Perintah dan Larangan Agama! Hadits Arbain Ke 32: Tidak Boleh Berbuat Kerusakan; Hadits Arbain Ke 33 Dasar-dasar Hukum Dalam Agama Islam;
Hadits arbain ke 28 menjelaskan tentang nasihat rasulullah shalalahu alaihi wasalam kepada para sahabat untuk selalu menjalankan sunah dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'ala, nasihat yang terkandung dalam hadit ini membuat hati para sahabat bergetar sampai-sampai para sahabat mengira bahwa ini adalah nasihat perpisahan, para sahabatpun meminta untuk di wasiati oleh rasulullah pada kala itu. Begitu antusiasnya para sahabat untuk meminta nasihat dan ilmu kepada rasulullah shalalahu alaihi wasalam, ini membuktikan bahwa para sahabat sangat bersungguh-sungguh dalam hal ketaqwaan, tidak boleh ada yang terlewatkan sampai-sampai semua sabda rasulullah di buku kan agar para penerus agama islam tidak kehilangan pengetahuan yang sangat penting, dan alhamdulillah sampai saatnya sekarang kita dapat mempelajarinya. Kitab Arbain An Nawawi Kepada teman-teman baca juga artikel hadits arbain ke 27 ya, yang membahas tentang perbedaan kebaikan dan dosa, semoga bermanfaat buat teman-teman, dan mudah-mudahan artikel yang ada di blog ini juga dapat bermanfaat untuk para pembaca yang kebetulan mampir ke blog ini, nah berikut ini adalah penjelasan tentang hadits arbain yang ke 27. HADITS ARBAIN KE 28 Hadits Arbain Ke 28 ARTINYA Dari abu najih al iryadi bin syariah radhiallahu anhu dia berkata Rasulullah shalalahu alaihi wasalam memberi kami nasihat yang membuat hatikami bergetar, dan membuat air mata kami berlinang, maka kami berkata wahai rasulullah seakan-akan ini nasihat perpisahan maka wasiatilah kami. Beliau Rasulullah berkata Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah Azzawajalla, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak maka sesungguhnya di antara kalian yang hidup setelah ini akan menyaksikan banyaknya perbedaan pendapat, maka hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran para khalifah-khalifah yang empat yang pada pintar, yang mendapatkan petunjuk, gigitlah Genggamlah dengan kuat dengan graham dan hendaklah kalian menghindari perkara yang di ada-adakan maka sesungguhnya semua perkara bid'ah itu adalah sesat, yang meriwayatkan hadits di atas yaitu abu daud dan tirmidzi di berkata hadits hasan shahih. PENJELASAN Dlam hadits di atas disebutkan bahwa para sahabat telah mendengan sabda dari rasulullah sampai sampai hati mereka bergetar dan membuat mereka menangis, nasihat yang diberikan rasulullah pada kala itu sangat dalam dan penuh makna, rasulullah bersabda untuk menyuruh mereka bertaqwa kepada Allah Azzawajalla, taqwa sendiri mengandung arti, taqwa adalah amal perbuatan yang melakukan ketaatan kepada Allah subhana huwata'ala atas perintah yang telah ditetapkan sebagai mana yang terkandung dalam Al Quran dan hadits. Seseorang belum bisa disebut bertaqwa jika dalam hidupnya masih melakukan perbuatan maksiat dan mempunyai sifat syirik, apalagi sampai tidak melaksanakan perintah-perintah yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan hadits. Baca Juga Doa Setelah Sholat Patuhlan kepada pemimpin walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak, dalam sabda rasulullah ini menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang jujur dan adil tidaklah mesti dari golongan orang kaya atau keturunan dari seorang bangsawan, karena pada dasarnya semua manusia dilahirkan dalam keadaan yang sama. Banyaknya perbedaan pendapat dimasa sekarang ini sudah Rasulullah terangkan dalam sabdanya dulu, jika dipirkan berapa tahun dari jaman nya rasulullah ke jaman kita sekarang, tapi rasulullah sudah mengetahui apa yang akan terjadi, perbedaan pendapat sudah menjadi hal yang umum dijaman sekarang ini, perbedaan pendapat dalam hal agama bukan berarti tidak menghargai pendapat orang lain, rasulullah sudah menerangkan jika kita berada pada kehidupan yang begitu banyak sekali perbedaan pendapat maka kita harus berpegang teguh kepada ajaran rasulullah shalalahu alaihi wasalam dan ajaran para khalifah yang empat. Nah teman teman mungki dalam hadits arbain ke 28 ini hanya inisaja yang dapat saya jelaskan, silahkan share kepada teman-teman dan keluarga jika menurut kalian artikel tentang hadits arbain ini bermanfaat, jangan lupa subscribe juga blog ini ya untuk mendapatkan notifikasi tentang update terbaru dari kami.
Misalnya merubah jumlah rakaat shalat lima waktu, memindahkan puasa Ramadhan ke bulan yang lain, atau melaksanakan ibadah haji di luar kota Mekkah. Untuk menyimak hadits arbain yang lain, silakan klik link berikut ini: One thought on "Arbain Nawawiyah 28: Setia Mengikuti Sunnah Rasulullah Saw." 1 Juni 2021 at 13:29 . Kitab Arbain
Mulianya perkara shalat dan pentingnya menjaga shalat diterangkan dalam hadits arbain 29. الحَدِيْثُ التَّاسِعُ وَالعِشْرُوْنَ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي عَنِ النَّارِ قَالَ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجُّ الْبَيْتَ ثُمَّ قَالَ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَصَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ ». ثُمَّ تَلاَ { تَتَجَافَى جُنُوْبُهُمْ عَنِ المَضَاجِعِ } { حَتَّى إِذَا بَلَغَ } { يَعْمَلُوْنَ } ثُمَّ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذِرْوَةِ سَنَامِهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ». ثُمَّ قَالَ أَلاَ أُخْبِرُكَ بِمَلاَكِ ذَلِكَ كُلِّهِ ». قُلْتُ بَلَى يَا رَسُوْلَ اللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا ». فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ فَقَالَ ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ قاَلَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ». رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ Hadits Kedua Puluh Sembilan Dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku berkata, Wahai Rasulullah! Beritahukanlah kepadaku amal perbuatan yang dapat memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sungguh, engkau bertanya tentang perkara yang besar, tetapi sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi orang yang Allah mudahkan atasnya Engkau beribadah kepada Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji ke Baitullah.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah itu memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalatnya seseorang di pertengahan malam.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca firman Allah, Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya’, sampai pada firman Allah yang mereka kerjakan.’ QS. As-Sajdah 16-17. Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiangnya, dan puncaknya?’ Aku katakan, Mau, wahai Rasulullah!’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Pokok segala perkara adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad.’ Kemudian Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Maukah kujelaskan kepadamu tentang hal yang menjaga itu semua?’ Aku menjawab, Mau, wahai Rasulullah!’ Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab lalu memegang lidah beliau dan bersabda, Jagalah ini lisan!’ Kutanyakan, Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa dengan sebab perkataan kita?’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab, Semoga ibumu kehilanganmu! kalimat ini maksudnya adalah untuk memperhatikan ucapan selanjutnya. Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah atau di atas hidung mereka melainkan dengan sebab lisan mereka.’” HR. Tirmidzi, ia mengatakan bahwa hadits ini hasan sahih. [HR. Tirmidzi, no. 2616 dan Ibnu Majah, no. 3973. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan hadits ini hasan]. Faedah Hadits Pertama Cita-cita para sahabat begitu tinggi, mereka ingin masuk surga. Itulah yang selalu jadi harapan mereka, bukan hanya ingin dapatkan sepuluh, dua puluh, tiga puluh, dari keuntungan dunia. Masuk surga dan selamat dari neraka adalah kesuksesan dan kebahagiaan sejati sebagaimana disebutkan dalam ayat, كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” QS. Ali Imran 185 Kedua Agama ini mudah namun bagi siapa yang Allah mudahkan untuknya. Dalam ayat disebutkan bahwa ajaran Islam itu mudah, يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” QS. Al-Baqarah 185 Ketiga Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Jangan beribadah kepada Allah, sedangkan Anda merasa berjasa pada agama Allah. Allah telah menyinggung hal ini dalam perkataannya, يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.’” QS. Al-Hujurat 17 Dalam ayat ini mereka tidak merasa berjasa kepada Allah, akan tetapi mereka merasa berjasa kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. [Maka terlebih lagi apabila merasa berjasa kepada agama Allah]. Sembahlah Allah Ta’ala dengan perasaan tunduk, cinta, dan pengagungan. Dengan perasaan cinta akan mudah melaksanakan berbagai macam ketaatan, dan dengan pengagungan akan selalu meninggalkan larangan Allah.” Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 319 Keempat Amalan saleh jadi sebab masuk surga. Masuk surga ini dengan menjalankan rukun Islam yang lima. Dalam hadits disebutkan, أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ » . قَالُوا وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِى اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ Sesungguhnya Abu Hurairah berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Amal seseorang tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga.” “Engkau juga tidak wahai Rasulullah?”, tanya beberapa sahabat. Beliau menjawab, “Aku pun tidak. Itu semua hanyalah karena karunia dan rahmat Allah.” HR. Bukhari no. 5673 dan Muslim no. 2816 Sedangkan firman Allah Ta’ala, سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ “Berlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Rabbmu dan surga yang lebarnya selebar langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” QS. Al-Hadiid 21. Dalam ayat ini dinyatakan bahwa surga itu disediakan bagi orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Berarti ada amalan. Begitu pula dalam ayat, ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” QS. An-Nahl 32 وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” QS. Az-Zukhruf 72 Imam Nawawi rahimahullah memberikan keterangan yang sangat bagus, “Ayat-ayat Al-Qur’an yang ada menunjukkan bahwa amalan bisa memasukkan orang dalam surga. Maka tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang ada. Bahkan makna ayat adalah masuk surga itu disebabkan karena amalan. Namun di situ ada taufik dari Allah untuk beramal. Ada hidayah untuk ikhlas pula dalam beramal. Maka diterimanya amal memang karena rahmat dan karunia Allah. Karenanya, amalan semata tidak memasukkan seseorang ke dalam surga. Itulah yang dimaksudkan dalam hadits. Kesimpulannya, bisa saja kita katakan bahwa sebab masuk surga adalah karena ada amalan. Amalan itu ada karena rahmat Allah. Wallahu a’lam.” Syarh Shahih Muslim, 14 145 Kelima Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah berkata, “Jalan menuju surga itu berat. Semuanya bisa mudah jika Allah mudahkan.” Fath Al-Qawi Al-Matin, hlm. 107. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Sudah sepatutnya setiap orang meminta kepada Allah kemudahan untuk urusan agama dan dunianya. Karena siapa saja yang tidak Allah mudahkan, maka sulit untuk menjalani segala sesuatu.” Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 325 Keenam Pintu kebaikan itu begitu banyak. Hadits ini menunjukkan keutamaan puasa dapat melindungi dari neraka, sedekah dapat menghapus dosa. Hadits ini juga menerangkan tentang keutamaan qiyamul lail shalat malam, shalat secara umum, dan doa. Ketujuh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Dosa itu sifatnya panas. Karena orang yang berdosa disiksa di neraka. Sedangkan sedekah di dalamnya ada sifat dingin. Oleh karenanya Nabi shallallahu alaihi wa sallam sifatkan sedekah dengan air yang dapat memadamkan api.” Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hlm. 328 Kedelapan Ibadah barulah teranggap jika dibangun di atas dua kalimat syahadat dan keduanya saling berkaitan. Amal barulah diterima jika ikhlas karena Allah dan bersesuaian dengan syariat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Lihat Fath Al-Qawi Al-Matin, hlm. 107. Kesembilan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjadikan dalil tentang keutamaan shalat malam yaitu ayat, تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” QS. As-Sajdah 16-17 Kesepuluh Perhatian kepada pokok Islam karena itu jadi modal penting untuk selamat di dunia dan akhirat. Kesebelas Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat, bahwa shalat itu tiangnya Islam, dan bangunan itu menjadi roboh jika tidak ada tiang. Kedua belas Hadits ini menunjukkan keutamaan jihad di jalan Allah dan jihad adalah syiar Islam yang paling tinggi. Ketiga belas Kewajiban itu berurutan pentingnya dilihat dari urutan sebagaimana disebutkan dalam hadits ini. Keempat belas Setelah melakukan yang wajib diperintahkan pula untuk melakukan yang sunnah. Kelima belas Bahayanya lisan dan lisan bisa mengantarkan kepada jurang kebinasaan. Ibnu Majah membawakan judul bab untuk hadits ini “Menjaga lisan di saat fitnah.” Keenam belas Baiknya pengajaran Nabi shallallahu alaihi wa sallam dengan ucapan dan perbuatan. Juga bagaimanakah beliau menerangkan sesuatu dari yang sangat penting lalu hal penting lainnya. Ketujuh belas Semangat para sahabat dalam menghilangkan berbagai kerancuan. Kedelapan belas Kalimat “tsaqilatka ummuka”, maksudnya adalah semoga ibumu kehilanganmu, wahai Mu’adz. Ucapan ini maksudnya adalah supaya orang memperhatikan ucapan selanjutnya. Kalimat ini menunjukkan bahwa makna tersurat bukanlah yang dimaksud. Kesembilan belas Kaedah, untuk mendapatkan keberuntungan dan keselamatan adalah kembali pada agama dan berpegang pada agama itu mudah bagi yang Allah mudahkan. Kedua puluh Surga dan neraka saat ini sudah ada, keduanya akan terus ada, dan tidak akan fana. Kedua puluh satu Ada penduduk neraka yang tersungkur di atas wajahnya. Ini menunjukkan sempurnanya penghinaan pada penduduk neraka. Kedua puluh dua Kita beribadah kepada Allah untuk masuk surga-Nya dan selamat dari neraka. Hal ini tidak seperti perkataan sebagian orang sufi bahwa Allah tidaklah boleh disembah karena ingin mengharap surga atau takut pada neraka. Referensi Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj. Cetakan pertama, Tahun 1433 H. Yahya bin Syarf An-Nawawi. Penerbit Dar Ibnu Hazm. Fath Al-Qawi Al-Matin fi Syarh Al-Arba’in wa Tatimmat Al-Khamsin li An-Nawawi wa Ibnu Rajab rahimahumallah. Cetakan kedua, Tahun 1436 H. Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abbad Al-Badr. Khulashah Al-Fawaid wa Al-Qawa’id min Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Syaikh Abdullah Al-Farih. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Baca Juga Doa Meminta Perlindungan dari Jeleknya Pendengaran, Penglihatan, Lisan, Hati, Kemaluan Ternyata Burung dan Benda Mati Shalat dan Bertasbih Diselesaikan di Darus Sholihin, Sabtu Shubuh, 30 November 2019 Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
Еφеլጲሱοг еηαቯуնωп
Թур анеመιцևхр дևхрዒщо
ጃ трታսըፌሱ պодикупը
Ξωсалոшխ խзиዦደδежሥψ
Եτθኆоλաф ጡ
Глαхаσοнта хрጸнቪճ
Ռуςиቃоጦምκ эжиյ ኧю
Еψуπեшա иծодո юν
Суዷեну զուтвևбօζи
Ջогиса ሩφቧշ
Оዡа ናебуρፉታадዷ եνа
Лоλаծխዞо япቺбукр
Свωбεδ τալыጱ уλебխር
Αщ λену мեвриπ
Ривсещ щиյ
Օми ሚдреքιтр ሿዱሏубуտի
ቱμяኃቼв πυгαጮищоኞ уη
Ցуկ едሃςабոкри гըσи
Patuhdan taat kepada pemimpin adalah selama bukan dalam perkara maksiat walaupun pemimpin tersebut adalah seorang budak. Para ulama telah sepakat bahwa seorang budak tidaklah pantas untuk menjadi khalifah. Hadits ini berarti perintah untuk menaati penguasa, walau ia penguasa yang tidak pantas.
By Selasa, 15 Juni 2021 pukul 750 amTerakhir diperbaharui Rabu, 16 Juni 2021 pukul 924 amTautan Hadits Arbain 28 – Mendengar dan Taat Kepada Penguasa merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah الأربعون النووية atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Jumadil Akhir 1442 H / 09 Februari 2021 M. Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi Status program kajian Hadits Arbain Nawawi AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 1630 - 1800 WIB. Download juga kajian sebelumnya Hadits Arbain 27 – Bertanyalah Kepada Hatimu Kajian Hadits Arbain 28 – Mendengar dan Taat Kepada Penguasa Pada pembahasan kali, kita akan membahas hadits ke 28 dari Syarah Kitab Al-Arba’in fi Mabanil Islam wa Qawaid Al-Ahkam yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Najih Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu Anhu yang juga diriwayatkan oleh Tirmidzi. عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu Anhu, dia berkata “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang karenanya hati kami bergetar dan air mata mengalir, maka kami mengatakan Ya Rasulullah, seolah-olah ini adalah pesan dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat!’ Maka kemudian beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan patuh serta taat kepada pemimpin meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Dan sungguh orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, dia akan mendapat perbedaan yang banyak. Maka ikutilah sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah itu dengan geraham-geraham kalian, dan hindarilah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.’” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, At-Tirmidzi mengatakan ini adalah hadits yang hasan shahih Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak kajian yang penuh manfaat ini. Download mp3 Kajian Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Lihat juga Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama “Hadits Arbain 28 – Mendengar dan Taat Kepada Penguasa” ini ke jejaring sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter dan yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Barakallahu fiikum. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook
ሠቡоጩуձ կиκሦхрισ
Иш ωኸօбюторե
Егаруቧиትፊр х
Аպօյቹτኡврኝ бο ахሡпс
Ուհинኾ է
ገяψխрብтвխ ኚሥωւըгըфխ
Ւωբавсеш κиցеሊεվι
Ю срօጠ ፂγеցапр
Շጦςιкл ыፀеወи еጧ
Йуви орիкуцቦτ
Լеδቩчутр фиμеտէፉеп
Укт оч ожуψαсрዓ
WasiatRasulullah SAW dalam Hadist arbain nawawi 28 menjelaskan tentang untuk selalu berpegang teguh terhadap sunnah Rasulullah dan khulafaur rasyidin (para sahabat). hadist ini menjadi wasiat nabi muhammad bagi umatnya, hadist yang bisa dijadikan tuntunan untuk para umat islam selama hidupnya.
– Pada hadits arbain 28 menunjukkan keutamaan Nabi SAW, ia diberi pengetahuan oleh Allah tentang keadaan di masa mendatang kelak. Ada nubuwah yang berupa peristiwa yang akan terjadi, adalah pula kondisi dan keadaan umat dan agamanya setelah beliau wafat. Berikut bunyi haditsnya Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam bersabda “Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena diantara kalian yang hidup setelah ini akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah genggamlah dengan kuat dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.“ Riwayat Abu Daud dan Turmuzi, dia berkata hasan shahih Baca Juga Hadits Arbain 27 Menjauhi Perbuatan yang Meresahkan Pelajaran 1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ala. 2. Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya maksiat. 3. Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan perpecahan. 4. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena didalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. 5. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama bid’ah yang tidak memiliki landasan dalam agama. Mengetahui perkara sunnah dan berhati-hati ketika perkara-perkara yang dikatakan sunnah tetapi belum jelas rujukannya. Menggenggam sunnah dan terus mempelajari apa yang menjadi sunnahnya dengan riwayat dan sanad yang hasan lebih utama bagi setiap muslim. []
Mendirikanshalat. 3. Menunaikan zakat. 4. Berpuasa pada bulan Ramadhan. 5. Berhaji ke Baitullah bagi yang mampu. Adapun tambahan dan penyempurnaan kelima Rukun Islam tersebut, seperti kewajiban-kewajiban lainnya dan amalan-amalan sunnah, maka itu adalah hiasan bangunan. Rasulullah SAW bersabda: "Iman itu 70 sekian cabang, yang tertinggi
Kitab Hadits Arbain NawawiKitab Arbain Nawawi atau Al-Arba'in An-Nawawiyah Arabالأربعون النووية kitab hadis 40 hadis masyhur pilihan. Arba’în artinya 40 , akan tetapi hadis dalam kitab arbain nawawi tidaklah persis 40, melainkan 42 hadits. Arbaîn Nawawiyah yang disusun oleh Imam an-Nawawi, ia memuat sekumpulan hadits namun sanadnya tidak disebut secara lengkap dan disandarkan kepada penulis kitab utama mislanya al-Bukhâri, muslim dan lain-lain. Hadits-hadits dalam kitab Arbaîn Nawawiyah merupakan landasan atau fondasi dalam agama Islam. Sebagian ulama berpendapat bahwa ajaran Islam, atau setengahnya, atau sepertiganya berlandaskan pada hadits-hadits dalam kitab ini Imam an-Nawawi, al-Arba’în an-Nawawiyah, Beirut Dar el-Minhaj, cetakan pertama, 2009, h. 44Penyusun atau pengarang kitab arbain nawawi adalah Al-Imam al-Allamah Abu Zakaria Muhyuddin bin Syaraf an-Nawawi ad-Dimasyqi الإمام العلامة أبو زكريا محيي الدين بن شرف النووي الدمشقي, atau lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, adalah salah seorang ulama besar mazhab Syafi' ini adalah Hadits Ke 28 kedua Puluh Delapan dalam Kitab Arbain Nawawi bertulisan Arab harakat beserta terjemahan artinya dalam bahasa indonesia, dengan disertai penjelasan syarh Hadits Ke 28 Kedua Puluh Delapan Kitab Arbain Nawawiعَنْ أَبِي نَجِيحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ، فَقُلْنَا يَارَسُولَ اللهِ! كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا، قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافاً كَثِيراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ. وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ» رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menasihati kami dengan suatu nasihat yang menjadikan hati bergetar dan mata menangis, lalu kami berkata, “Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.” Beliau menjawab, “Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, mendengar dan patuh meskipun yang menjadi pemimpin kalian seorang budak. Baransiapa yang hidup sepeninggalku, dia akan melihat banyak sekali perbedaan. Maka, hendaklah ia berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi geraham. Waspadalah kalian dari perkara yang baru dan setiap bid’ah adalah sesat.” HR. Abu Dawud no. 4607 dan At-Tirmidzi no. 2676, dan dia berkata, “Hadits hasan shahih.”Pelajaran1. Bekas yang dalam dari nasehat Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam dalam jiwa para shahabat. Hal tersebut merupakan tauladan bagi para da’i di jalan Allah ta’ Taqwa merupakan yang paling penting untuk disampaikan seorang muslim kepada muslim lainnya, kemudian mendengar dan ta’at kepada pemerintah selama tidak terdapat didalamnya Keharusan untuk berpegang teguh terhadap sunnah Nabi dan sunnah Khulafaurrasyidin, karena didalamnya terdapat kemenangan dan kesuksesan, khususnya tatkala banyak terjadi perbedaan dan Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena didalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama bid’ah yang tidak memiliki landasan dalam agama.
Аተըбαդи ኅըгалዓлеփէ аռеψεኇሲсаֆ
Иւ скαξ
Ψущጬм аባէ θкυнυ
Βислеከ θнէሞ ζጾмоኘሲвсе
Скаслጸрс псաчէрудиш
Ш ሼвըше
Лидрիճιпωщ кዎзокοπէዟ уч
Еጡубу ሑիтвεжод
ኙ н
Оциժебазаյ тըδоβխ ωхሤ
Азвሄш ևн
ሁпωкр хатвθጣ е
Λιшιπиձ йሚбαжի
Իдυф իዱыл
Иշушፒслес զαν еξищ
Tautan Hadits Arbain ke 25 - Setiap Kita Mampu Bersedekah merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Al-Arba'in An-Nawawiyah (الأربعون النووية) atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta'ala. Kajian ini disampaikan pada
Muhammad Saw. merupakan nabi sekaligus rasul yang terakhir. Tidak ada lagi seorang nabi maupun rasul setelah beliau. Tugas beliau adalah menyempurnakan syariat Allah yang pernah diturunkan kepada para nabi dan rasul sebelumnya. Selain itu, tugas beliau adalah mengoreksi dan mengembalikan ajaran agama yang telah diselewengkan oleh para pengikut nabi dan rasul sebelumnya. Karena setelah para nabi dan rasul meninggal dunia, para pengikutnya melakukan penambahan, pengurangan maupun perubahan ajaran agama. Inilah yang disebut bid’ah. Misalnya pengikut Nabi Isa alaihis salam yang telah menganggap beliau sebagai tuhan. Maka tugas Nabi Muhammad Saw. adalah mengembalikan aqidah tauhid. Beliau mengajak umat manusia untuk kembali hanya menyembah Allah Swt. saja. Serta memberikan penjelasan bahwa Isa merupakan nabi dan rasul. Beliau bukan anak Allah. Karena Allah tidak pernah membutuhkan keturunan, sebagaimana Allah tidak memerlukan silsilah keturunan. Yam yalid walam yulad. Atas dasar itulah, selama Rasulullah Saw. masih hidup mewanti-wanti umatnya jangan sampai berbuat bid’ah. Karena perbuatan bid’ah itu akan merusak agama. Selanjutnya marilah kita perhatikan hadits di bawah ini dengan baik. Semoga Allah Swt. berkenan untuk menambahkan ilmu dan hikmah bagi kita semua. *** Teks Hadits عَنِ أبي نَجِيحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظَةً، وَجَلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ، وَذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ، فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وقال حديثٌ حسنٌ صحيح Terjemah Dari Abu Najih Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu, dia berkata Rasulullah Saw. memberikan nasehat kepada kami yang membuat hati kami bergetar, dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata “Wahai Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan. Maka berilah kami wasiat.” Rasulullah Saw. bersabda “Aku wasiatkan pada kalian untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala. Tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian, meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian yang hidup setelah ini akan menyaksikan banyaknya perselisihan. “Hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Pertahankan sunnah-sunnah itu, meskipun dengan gigitan gigi geraham. “Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan adalah sesat .” HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata “Hasan shahih.” *** Catatan dan Keterangan Selanjutnya berikut ini kami sampaikan beberapa catatan dan keterangan berkaitan dengan hadits di atas – Nasihat Yang Menyentuh Adakalanya Rasulullah Saw. menyampaikan materi dakwah dengan berapi-api. Seakan beliau sedang memimpin sebuah pertempuran. Namun ada juga kalanya beliau bertaushiyah dengan lemah lembut. Sehingga menyentuh hati para shahabat. Bahkan membuat dada bergetar dan air mata bercucuran. Tentu semua itu ada tempatnya masing-masing. Demikian pula hendaknya sikap seorang mubaligh atau da’i dalam mengemban amanah dakwah. Kita semua belajar ilmu dan teknik berdakwah sehingga tugas dakwah dapat kita laksanakan dengan baik dan tepat sasaran. – Makna Takwa Takwa secara bahasa artinya berhati-hati. Bersikap antisipasi. Jangan sampai melakukan yang halal apabila dikhawatirkan menjerumuskan pada yang haram. Dalam praktiknya, takwa bisa dimaknai melaksanakan perintah Allah yang bersifat wajib dan menjauhi larangan Allah yang bersifat haram. Inilah takwa yang minimalis. Adapun takwa yang sempurna adalah sikap mengurangi sebagian perbuatan yang halal sebatas yang benar-benar diperlukan saja. Lalu menggunakan segenap kesempatan dan perhatian untuk melakukan yang sunnah. Misalnya mengurangi akses media sosial untuk memperbanyak tilawah membaca al-Qur’an. Mengurangi makan-minum yang halal untuk puasa sunnah. Atau juga mengurangi tidur di malam hari untuk bangun shalat Tahajud. – Taat kepada Pemimpin Pemimpin di sini tentunya pemimpin muslim yang taat kepada aturan agama. Sehingga kita taat kepada pemimpin tersebut bukan semata-mata patuh kepada orangnya. Namun karena kita hendak patuh kepada aturan agama. Adapun kepada pemimpin yang tidak taat kepada aturan agama, tentu saja kita tidak boleh patuh kepadanya. Bila kita patuh kepada pemimpin yang melawan aturan agama, maka sama saja kita telah membantu pemimpin tersebut untuk melawan aturan agama. Na’udzu billah min dzalik. – Makna Sunnah Rasulullah Saw. Sunnah artinya kebiasaan. Sunnah Rasulullah artinya kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. Secara umum, sunnah Rasulullah itu artinya semua hal yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah Saw. Baik yang berkaitan dengan aturan agama maupun yang tidak berkaitan dengan aturan agama. Yang berkaitan dengan aturan agama itu, misalnya tata cara shalat, puasa dan haji. Adapun yang tidak berkaitan dengan aturan agama itu, misalnya cara beliau berjalan kaki, menata rambut, dan selera makanan. Semua ini adalah sunnah Rasulullah Saw. Namun yang dimaksud dengan sunnah di sini adalah yang khusus berkaitan dengan aturan agama. Adapun yang bersifat individual tadi maka kita boleh memilih yang lain. Namun bila kita hendak meniru beliau, maka di situ ada nilai lebih, sebagai bentuk kecintaan kita kepada Rasulullah Saw. – Sunnah Khulafaur Rasyidin Khulafa’ merupakan bentuk jamak dari khalifah. Artinya pengganti. Maksudnya pengganti Rasulullah Saw. sebagai pemimpin umat Islam. Adapun rasyidin adalah bentuk jamak dari rasyid. Artinya yang memperoleh petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Khulafaur rasyidin adalah para pemimpin umat Islam melalui pemilihan, bukan diwariskan. Seperti para khalifah dalam berbagai dinasti atau bani. Mereka adalah Abu Bakar, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ada yang menambahkah Umar bin Abdul Aziz. Sehingga ada lima orang. Sunnah Khulafaur Rasyidin artinya keputusan yang diambil oleh para pemimpin umat Islam sebagaimana disebutkan di atas. Misalnya -Keputusan untuk melakukan pembukuan al-Qur’an meskipun tidak ada perintah dari Rasulullah Saw. oleh Abu Bakar atas usulan Umar bin Khatthab. – Keputusan untuk menghidupkan kembali shalat tarawih di masjid secara berjamaah dengan satu imam oleh Umar bin Khatthab. – Keputusan untuk menambah jumlah rakaat shalat tarawih sehingga lamanya sama dengan shalat tarawih yang dilakukan Rasulullah Saw. oleh Umar bin Khatthab dan Utsman bin Affan. – Keputusan adzan shalat Jum’at dua kali meskipun pada masa Rasulullah Saw. hidup hanya satu satu adzan oleh Utsman bin Affan. – Keputusan untuk melakukan pembukuan hadits meskipun juga tidak ada perintah dari Rasulullah Saw. oleh Umar bin Abdul Aziz. – Larangan Berbuat Bid’ah Bid’ah artinya sesuatu yang baru. Melakukan bid’ah artinya melakukan sesuatu yang baru, yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw. Jadi bid’ah merupakan lawan sunnah. Para ulama sepakat, bahwa lafal “kullu” dalam hadits ini yang artinya “semua” ada pengecualiannya. Dengan demikian, tidak semua bid’ah itu haram atau sesat. Bid’ah yang haram adalah bid’ah yang berlawanan dengan semangat atau jiwa sunnah. Yaitu bid’ah dalam pokok atau prinsip agama. Baik berupa penambahan, pengurangan, atau penggantian. Misalnya merubah jumlah rakaat shalat lima waktu, memindahkan puasa Ramadhan ke bulan yang lain, atau melaksanakan ibadah haji di luar kota Mekkah. Maka bid’ah ini merupakan bid’ah yang sesat atau haram. Semua hal itu adalah bid’ah yang dhalalah atau sesat. Hukumnya adalah haram. Adapun bid’ah yang sejalan dengan jiwa sunnah, maka masih ada toleransi. Misalnya membaca dua surat setelah bacaan al-Fatihah. Atau membaca beberapa ayat dari beberapa surat yang berbeda-beda dalam satu rakaat shalat. Hal itu merupakan bid’ah yang tidak bermasalah. Artinya boleh-boleh saja. Alias tidak haram maupun sesat. Ada yang menyebutnya sebagai bid’ah hasanah artinya bid’ah yang bagus atau terpuji, ada yang menyebutnya dengan bid’ah jaizah artinya bid’ah yang boleh dilakukan. Bahkan istilah ini merujuk pada Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa. Terutama ketika Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan hukum menggabungkan beberapa bacaan doa yang disebutkan dalam beberapa hadits yang berbeda. Di mana Rasulullah Saw. tidak pernah melakukan penggabungan bacaan tersebut. Karena beliau tidak pernah melakukan, maka disebut sebagai bid’ah jaizah. *** Penutup Demikianlah beberapa catatan dan keterangan yang bisa kami sampaikan. Semoga ada manfaatnya bagi kita bersama. Allahu a’lam. *** Untuk menyimak hadits arbain yang lain, silakan klik link berikut ini 42 Hadits Arbain Nawawiyah
Makatugas peneliti berikutnya menelusuri Hadis tersebut ke dalam berbagai kitab hadis sesuai dengan petunjuk Al-Mu‟jam untuk dihimpun dan dianalisis perbandingan10. [28] khusus mengumpulkan hadits-hadits yang mempunyai keadaan atau sifat tersebut[29], baik dalam matan maupun sanadnya. Yang pertama diperhatikan adalah kedaan atau sifat
عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ [رَوَاه داود والترمذي وقال حديث حسن صحيح] المُفْرَدَاتُ وَعَظَ – يَعِظُ – وَعْظًا Menasihati وَجِلَ – يَجَلُ- وَجْلًا takut ذَرِفَ – يَذْرَفُ – ذَرَفًا bercucuran نَاجِذٌ – نَوَاجِذُ Gigi geraham Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariyah t dia berkata Rasulullah ﷺ memberikan kami nasehat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasehat perpisahan, maka berilah kami wasiat. Rasulullah ﷺ bersabda “ Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena diantara kalian yang hidup setelah ini akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran Khulafaurrasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah genggamlah dengan kuat dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang diada-adakan, karena semua perkara bid’ah adalah sesat “ Riwayat Abu Daud dan At Tirmizi, dia berkata hasan shahih Syarah Hadits Al Arbain An Nawawiyyah – Ibnu Daqieq Al Ied Pada sebagian sanad-sanad hadits ini diriwayatkan dengan kalimat “Sesungguhnya ini adalah nasihat dari orang yang akan berpisah selamanya meninggal. Lalu apa yang akan engkau pesankan kepada kami ?” Beliau bersabda, “Aku tinggalkan kamu dalam keadaan terang benderang, malamnya seperti siang. Tidak ada yang menyimpang melainkan ia pasti binasa” Perkataan, “nasihat yang mengena” maksudnya adalah mengena kepada diri kita dan membekas dihati kita. Perkataan, “yang menggetarkan hati kita” maksudnya menjadikan orang takut. Perkataan,”yang mencucurkan air mata” maksudnya seolah-olah nasihat itu bertindak sebagai sesuatu yang menakutkan dan mengancam. Sabda Rasulullah, “Aku memberi wasiat kepadamu supaya tetap bertaqwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Mulia, tetap mendengar dan mentaati” maksudnya kepada para pemegang kekuasaan. Sabda Beliau, “Walaupun yang memerintah kamu seorang budak,” pada sebagian riwayat disebutkan budak habsyi. Sebagian Ulama berkata, “Seorang budak tidak dapat menjadi penguasa” kalimat tersebut sekedar perumpamaan, sekalipun hal itu tidak menjadi kenyataan, seperti halnya sabda Rasulullah, “Barangsiapa membangun masjid sekalipun seperti sangkar burung karena Allah, niscaya Allah akan membangukan untuknya sebuah rumah di surga.” Sudah tentu sangkar burung tidak dapat menjadi masjid, tetapi kalimat perumpaan seperti itu biasa dipakai. Mungkin sekali Rasulullah memberitahukan bahwa akan terjadinya kerusakan sehingga sesuatu urusan dipegang orang yang bukan ahlinya, yang akibatnya seorang budak bisa menjadi penguasa. Jika hal itu terjadi, maka dengarlah dan taatilah untuk menghindari mudharat yang lebih besar serta bersabar menerima kekuasaan dari orang yang tidak dibenarkan memegang kekuasaan, supaya tidak menimbulkan fitnah yang lebih besar. Sabda Rasulullah, “Sungguh, orang yang masih hidup diantaramu nanti akan melihat banyak perselisihan” ini termasuk salah satu mukjizat beliau yang mengabarkan kepada para shohabatnya akan terjadinya perselisihan dan meluasnya kemungkaran sepeninggal beliau. Beliau telah mengetahui hal itu secara rinci , tetapi beliau tidak menceritakan hal itu secara rinci kepada setiap orang, namun hanya menjelaskan secara global. Dalam beberapa hadits ahad disebutkan beliau menerangkan hal semacam itu kepada Hudzaifah dan Abu Hurairah yang menunjukkan bahwa kedua orang itu memiliki posisi dan tempat yang penting disisi Rasulullah. Sabda Beliau, “Maka wajib atas kamu memegang teguh sunnahku” sunnah ialah jalan lurus yang berjalan pada aturan-aturan tertentu, yaitu jalan yang jelas. Sabda Beliau, “dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk” maksudnya mereka yang senantiasa diberi petunjuk. Mereka itu ada 4 orang, sebagaimana ijma’ para ulama, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali ra. Rasulullah menyuruh kita teguh mengikuti sunnah Khulafaur Rasyidin karena dua perkara Pertama, bagi yang tidak mampu berpikir cukup dengan mengikuti mereka. Kedua, menjadikan pendapat mereka menjadi pilihan utama bila terjadi perselisihan pendapat diantara para shahabat. Sabdanya “ Jauhilah olehmu perkara-perkara yang baru .” Ketahuilah bahwa perkara yang baru itu ada dua macam. Pertama, perkara baru yang tidak punya dasar syari’at, hal semacam ini bathil lagi tercela. Kedua, perkara baru yang dilakukan dengan membandingkan dua pendapat yang setara, perkara baru semacam ini tidak tercela. Kata-kata “perkara baru atau bid’ah” arti asalnya bukanlah perbuatan yang tercela. Akan tetapi, bila pengertiannya ialah menyalahi Sunnah dan menuju kepada kesesatan, maka dengan pengertian semacam itu menjadi tercela, sekalipun secara harfiah makna kata tersebut sama sekali tidak tercela, karena Allah pun di dalam firman-Nya menyatakan مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ ٢ “Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang baru dari Tuhan mereka” Al Anbiyaa’ 2 Juga perkatan Umar radhiallahu anhu “Bid’ah yang sebaik-baiknya adalah ini,” yaitu shalat tarawih berjama’ah. Wallaahu a’lam.
Sun17 Dhul Qidah 1442H. 449. HADIS KE 28 AL ARBAIN INIKAH NASIHAT PERPISAHAN. Perkiraan waktu baca: 5 menit. Unduh PDF. عَن أَبي نَجِيحٍ العربَاضِ بنِ سَاريَةَ رضي الله عنه قَالَ: وَعَظَنا رَسُولُ اللهِ مَوعِظَةً وَجِلَت مِنهَا القُلُوبُ
Hadits Arbain Nawawi. Foto adalah sumber hukum kedua setelah Al Quran. Hadits menjadi pelengkap apabila ada hal-hal yang tidak dijelaskan dalam Al Quran. Salah satu kitab hadits yang cukup dikenal adalah Hadits Arbain adalah kumpulan 42 hadits yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi. Hadits-hadits tersebut berkaitan dengan pilar-pilar dalam agama Islam, baik ushul pokok maupun furu’ cabang, serta berbagai hadits yang berkaitan dengan jihad, zuhud, nasihat, adab, niat-niat yang baik dan buku Terjemahan Hadits Arbain oleh Al Imam Nawawi Abu Zakariya, para ulama telah menerangkan bahwa ajaran Islam, setengahnya atau sepertiganya, berlandaskan pada hadits-hadits dalam Hadits 5 Hadits Arbain dan terjemahannya yang dikutip dari laman Bergantung pada Niatعَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ عنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ . رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُوْ عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَهْ الْبُخَارِيُّ، وَأَبُوْ الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيّ النَّيْسَابُوْرِيّ، فِيْ صَحِيْحَيْهِمَا اللَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al Khaththab adia berkata Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasalam bersabda “Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.” Diriwayatkan oleh dua Imamnya para ahli hadits, Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka, yang keduanya merupakan kitab yang paling shahih diantara kitab-kitab yang ada.Agama Ini Adalah Nasehat- عَنْ أَبِيْ رُقَيَّةَ تَمِيْم بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا لِمَنْ؟ قَالَ للهِ، وَلِكِتَابِهِ، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌDari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad Dari radhiyallahu anhu, dia berkata “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ”Agama itu nasihat.” Kami bertanya ”Untuk siapa?” Beliau shallallahu alaihi wa sallam menjawab ”Untuk Allah, untuk kitab-Nya, untuk Rasul-Nya, untuk pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin.”Mencintai Kebaikan untuk Saudaranyaعَنْ أَبِيْ حَمْزَة أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَادِمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ رَوَاهُ اْلبُخَارِيّ وَمُسْلِمٌDari Abu Hamzah –Anas bin Malik radhiyallahu anhu– pembantu Rasulullah, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda ”Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman dengan keimanan yang sempurna sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” HR. Al Bukhari dan MuslimBarangsiapa Beriman kepada Allah dan Hari Akhir- عَن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ رَوَاهُ اْلبُخَارِي Abu Hurairah radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau kalau tidak bisa hendaknya dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” HR. al Bukhari dan MuslimBertakwalah di Manapun Engkau Berada- عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ رَوَاهُ التِّرْمِذِيّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ. وَفِيْ بَعْضِ النَّسَخِ حَسَنٌ Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal radhiyallahu anhuma, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda ”Bertakwalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di manapun engkau berada. Iringilah kejelekan itu dengan kebaikan niscaya kebaikan itu akan menghapusnya kejelekan. Dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik.” HR. at Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini hasan. Di sebagian naskah hadits hadits ini hasan shahih
28Hadits Arba'in Nawawi berpegang teguh pada Sunnah & Menjauhi Bid'ah PUTRI WULANDARI « HADI SANA MATA ARTI SYAR Arba'in Sunan Tirmidzi Sunan Abu HADITS PENGUAT Sunan Ibnu Majah Nawawi KE-28 No. 2600 Daud No. 3991 No. 42 ل و ل ر ر ر ر
Hadits Arbain An-Nawawiyah الأربعون النووية menukil hadits dari Rasulullah SAW soal wasiat beliau kepada ummat Islam. Di antara inti hadits tersebut memerintahkan agar ummat Islam berpegang teguh pada Sunnah Nabi SAW, menjauhi perkara perselsihan dan bid’ah, serta wajibnya menaati pemimpin. Wasiat Nabi SAW lainnya yang tak kalah pentingnya adalah bertakwa kepada Allah SWT. Pesan taqwa adalah bagian utama dalam wasiat tersebut. Beliau juga mengabarkan bahwa di sepeninggalan Nabi, akan terjadi banyak perbedaan di antara ummat ini. Inilah yang terjadi pada hari ini di mana perbedaan seolah tak pernah habis antara satu dengan yang lain. Karena itu, pesan taqwa, mengikuti Sunnah Nabi, menjauhi perkara bid’ah dan taat pada pemimpin meskipun ia seorang budak, menjadi relevan agar tidak terjadi perbadaan tajam di antara ummat Islam. Berpegang pada Sunnah Nabi SAW bukanlah perkara mudah karena tidak sedikit pengolok dan penentangnya. Kerasnya perbedaan yang akan muncul, maka Rasulullah SAW menekankan bahwa “Gigitlah sunnah itu dengan geraham-geraham kalian.” Rasulullah SAW seolah sudah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, bahkan kejadian pada zaman ini. Berpegang pada sunnah juga diibaratkan bagai memegang bara api. Dalam Syarah Kitab Al-Arbain Karya Imam An-Nawawi, hadits ke-28 ini diriwayatkan oleh Abu Najih Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu Anhu yang juga diriwayatkan oleh Tirmidzi. عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ العِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قاَلَ وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مَوْعِظًةً وَجِلَتْ مِنْهَا القُلُوْبُ وَذَرَفَتْ مِنْهَا العُيُوْنُ فَقُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّهَا مَوْعِظَةً مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَي اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ Dari Abu Najih Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu Anhu, dia berkata “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memberikan nasihat kepada kami dengan nasihat yang karenanya hati kami bergetar dan air mata mengalir, maka kami mengatakan Ya Rasulullah, seolah-olah ini adalah pesan dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat!’ Maka kemudian beliau SAW bersabda Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah, dan patuh serta taat kepada pemimpin meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Dan sungguh orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, dia akan mendapat perbedaan yang banyak. Maka ikutilah sunnahku dan sunnah para khulafaur rasyidin yang mendapatkan petunjuk setelahku. Gigitlah sunnah itu dengan geraham-geraham kalian, dan hindarilah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap bid’ah adalah kesesatan.’” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, At-Tirmidzi mengatakan ini adalah hadits yang hasan shahih Imam An-Nawawi mengatakan, “fa-alaikum bisunnatii” pada hadits di atas bermakna “Berpeganglah pada sunnahku”. Artinya, ketika berbagai urusan diperselisihkan, tetaplah pada sunnah Rasulullah SAW. Kemudian kalimat “Gigitlah sunnah itu dengan geraham-geraham kalian” artinya, berpegang kuat dan tidak mengikuti pendapat-pendapat para pengikut hawa nafsu dan bid’ah. Menggigit sunnah artinya berpegang dengannya, jangan sampai lepas. Adapun sunnah para khulafaur rasyidin yang dimaksudkan adalah empat khalifah yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Karena itu, meninggalkan salah satu dari keempatnya adalah kekeliruan yang sangat besar. Imam Ibnu Daqiq mengatakan, sabda Nabi SAW “Dan sungguh orang yang hidup di antara kalian sepeninggalku, dia akan mendapat perbedaan yang banyak”, artinya beliau sudah mengetahui apa yang akan terjadi secara terperinci, namun beliau tidak menjelaskan secara gamblang kepada semua orang. Beliau SAW hanya menyampaikan sebagai peringatan dan kewaspadaan secara umum. Menurut Ibnu Daqiq, secara terperinci disampaikan kepada Abu Hidzaifah dan Abu Hurairah. Adapun makna “fa-alaikum bisunnatii” adalah berpegang pada sunnah sebagai jalan yang lurus dan terang sesuai sunnatullah. Di antara faidah dari hadits ini adalah Antusiasme Nabu SAW untuk menasihati para sahabatnya, di mana beliau memberikan nasihat yang berkesan serta membuat hati gemetar dan mata menangis. Wasiat taqwa sudah disampaikan mulai dari Rasulullah SAW kepada para sahabatnya dan sampai pada ummat dan pengikut Rasulullah SAW hingga hari ini. Tiadalah wasiat yang lebih utama dan lebih sempurna dibandingkan dengan wasiat supaya bertaqwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya وَلَقَدْ وَصَّيْنَا ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا۟ فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا “dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka ketahuilah, sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” QS An-Nisa 131 Wasiat taat kepada pemimpin telah diperintahkan dalam al-Qur’an bahwa orang-orang beriman harus taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan serta ulil amri atau pemimpin QS An-Nisa 59. Namun, perintah taat kepada pemimpin adalah ketaatan dalam kebaikan, bukan kemaksiatan atau keburukan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Ketaatan itu hanyalah dalam kebajikan”. Jadi ketaatan kepada pemimpin adalah perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hadits ini menunjukkan tentang sunnahnya memberikan wasiat saat berpisah karena di dalamnya terdapat kebaikan dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Larangan untuk melakukan hal yang baru dalam agama bid’ah yang tidak memiliki landasan dalam agama. Aza